ANTY YANG MENCAPAI KESUKSESAN DARI NOL
Sebuah kisah haru, seorang anak perempuan umur sepuluh tahun harus
ditinggalkan oleh ibunya karena kangker, tiga tahun sebelumnya sang ayah
juga dijemput oleh yang maha kuasa. Saya tidak bisa membayangkan
bagaimana rasanya dalam keadaan seperti itu. Kehilangan, ditinggalkan
adalah hal-hal yang menyakitkan. Ibu dan bapak adalah dua orang yang
sangat penting dalam hidup kita. Apalagi kalau kita masih dalam usia
anak-anak, masih belum memiliki penghasilan, masih butuh sekolah,
bimbingan.
Hal itulah yang dialami oleh Anty. Hari-hari berikutnya dijalani oleh
Anty di panti asuhan. Saudaranya yang semula ia kira akan mengadopsinya
ternyata mengirimnya di panti asuhan. Ia yang sebelumnya hidup di rumah
bagus, pakaiannya banyak, tidur di ranjang yang empuk harus menerima
kenyataan makan susah, pakaian terbatas, dan tidur tanpa ranjang.
Membaca ini berulangkali saya menghela nafas. Menyaksikan fotonya yang
berkacamata dan mengenakan baju warna hitam dengan belang-belang warna
putih. Saya tidak menyaksikan sisa raut sedih dimukanya.
Anty. Di panti asuhan itu ia mengubur kenangan indah masa lalu.
Bercengrama bersama ibunya, bersama bapaknya, dan bersama kakaknya yang
di adopsi orang entah siapa. Ia melangkah belajar untuk melanjutkan
lukisan mimpi yang pernah ia bangun bersama ibunya dulu.
“Nanti kamu sekolah di luar negeri” kata ibunya waktu itu. Dan Anty
sujud syukur saat mendarat di bandara Narita (Jepang) untuk melanjutkan
studi di sana atas biasiswa yang telah diraihnya. Betapa indahnya sebuah
impian menjadi kenyataan, sebuah perjuangan yang terbayar. Ia seperti
melihat ibunya tersenyum.
Seusai pulang dari Jepang, Anty melanjutkan sekolah di Sekolah Tinggi
Telkom Jurusan Tekhnik Industri. Ia memilih jurusan itu karena ingin
lekas dapat kerja. Lagi-lagi ia menjawab tantangan dengan menjadi
lulusan terbaik, tercepat, dan termuda.
“Saya tidak menyesali kejadian itu, saya juga tidak tahu akan seperti
apa jika cobaan itu tidak datang” kata Anty. Anty setelah melakukan
perjalanan jauh dengan laka-liku kehidupan. Mengalami hidup rukun
berkecukupan, kemudian hancur berkeping-keping mengantarkannya ke panti
asuhan, dan pelan-pelan membangunnya kembali sampai ke puncak
kesuksesan. Menengok ke belakang ia berpendapat bahwa uang dan kekayaan
bukanlah segala-galanya.
Meskipun tidak seberat Anty, saya pernah ditinggalkan dan membuat diri
saya sekian saat tak mampu berbuat apa-apa dan menganggap segalanya
tidak penting. Saya anggap dunia sudah berhenti. Saya kehilangan orang
yang paling saya sayangi dalam sejarah hidup saya. Ia adalah anak. Tapi
setelah itu Tuhan mempertemukan saya dengan kisah-kisah. Kisah Ibrahim
yang betapa ikhlas melepas Ismail karena Allah. Kisah Muhammad yang juga
pernah ditinggal oleh putra kesayangannya. Muhammad menangis meski
tidak tersedu. Kata Muhammad waktu itu kira-kira begini “Anakku, jika
Tuhan membolehkanku untuk turut serta denganmu, aku akan ikut. Tapi ini
kehendak Tuhan.”
Saya Muhajir, saya pengikut Rosul. Saya ikut saja yang telah dicontohkan
olehnya dengan menerima takdirNya. Sampai siang ini aku syukuri pula.
Tuhan mempertemukan saya pada kisah mengharukan. Kisah Anty yang
ditinggalkan kemudian mampu hadir. Dan kehadirannya sangat berarti bagi
ketiga anaknya. Selamat pagi Anty. Kisahmu betapa berarti.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar